Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Maret 2011

Panitia Pilpres Mahasiswa UIN Dibacok

YOGYAKARTA,SinergiaBlognews — Pemilihan presiden mahasiswa di kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta, diwarnai kericuhan.

Ahmad Nur (24), mahasiswa Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga, yang menjadi anggota panitia pemilihan, terluka di bagian kepala karena dibacok pedang. Peristiwa itu terjadi di Fakultas Ushuludin, lantai III kampus, Kamis (17/3/2011) petang.

Kiraman, salah satu panitia di Fakultas Ushuludin, mengatakan, pihaknya mengetahui adanya kecurangan dalam pencoblosan pemilihan Presiden Kampus UIN Sunan Kalijaga. Kemudian, dia melaporkan kepada pihak Pembantu Dekan III.

Namun, aduannya tersebut tidak ditanggapi oleh pihak PD III. "Saya laporkan ada kecurangan di dalam pencoblosan. Ada satu orang mencoblos hingga dua kali. Saya laporkan ke PD III, tetapi tidak segera ditanggapi," ujar Kiraman di Markas Polsek Depok Barat, Sleman, Yogyakarta, Kamis (17/3/2011) malam.

Karena tidak ditanggapi, Kiraman melaporkan kepada korban Ahmad Nur. Kemudian, keduanya mengklarifikasi kepada panitia. Namun, saat ditanyakan masalah dugaan kecurangan tersebut, justru terjadi keributan antara Ahmad Nur dan sejumlah panitia.

Pada saat terjadi keributan tersebut, ada salah satu dari puluhan orang di ruang tersebut melukai korban dengan senjata tajam dan mengenai bagian kepala. Beruntung, beberapa satpam kampus berhasil melerai.

"Saya sempat lari ke lantai III, dikejar puluhan orang panitia. Tahu-tahu kepala saya bocor," ujar korban. Selanjutnya, korban dibawa ke Rumah Sakit Bethesda guna mendapatkan perawatan medis.

Seusai dibalut perban di kepalanya, korban bersama beberapa rekannya mengadukan insiden tersebut ke Polsek Depok Barat, Sleman.

"Kami akan tindak lanjuti laporan ini, besok siang kami akan memanggil PD III untuk memberikan kesaksian. Dari laporan korban, PD III justru membiarkan aduan mahasiswa," ujar Kapolsek Depok Barat Komisaris Muh Akbar Tamrin.(Kompas.com)

Sabtu, 22 Januari 2011

Bachdim Bawa Persema Tekuk PSM


Malang – SINERGIA MAGAZINE, Persema berhasil mengalahkan PSM Makassar 2-1 dalam lanjutan Liga Primer Indonesia (LPI), Sabtu, 22 Januari 2011. Mantan pemain timnas Irfan Bachdim menjadi penyelamat Persema dalam duel ini.

Bertanding di Stadion Gajayana, Malang, Persema justru tertinggal lebih dulu atas PSM. Gawang Laskar Ken Arok jebol pada menit ke-18 lewat aksi pemain PSM, Screkco Mitrovic memaksimalkan tendangan bebas.

Namun keunggulan tersebut tak bertahan lama. Pasalnya, Bachdim mampu menyamakan kedudukan melalui titik penalti pada menit ke-33, setelah Goran Subara melakukan "handsball" di kotak penalti.

Gol kedua Persema, kembali lahir dari kaki Bachdim pada menit ke-91 usai mendapat umpan dari sayap kiri PSM. Pemain blasteran Belanda-Indonesia itu pun sukses merubah skor menjadi 2-1 untuk Persema.
Usai Pertandingan, Pelatih Persema Timo Schunemann, memuji penampilan anak asuhnya tersebut, termasuk Bachdim.

Timo menjelaskan, kemenangan Persema ini adalah berkat kerja sama tim dan pemain Persema yang lebih menguasai permainan saat Stadion Gajayana dalam keadaan basah.

Dikatakannya, penampilan Persema hanya terganggu karena hujan yang cukup deras, meski demikian Timo mengaku puas dengan laga itu karena mampu memberikan penampilan yang memuaskan bagi penonton.

Sementara Asisten pelatih PSM Makassar Listiadi juga memberikan apresiasi kepada tuan rumah meski timnnya kalah.

"Pemain Persema bagus dan menampilkan permainan apik, meski kami kalah 1-2 atas tim tuan rumah, saya tetap bangga," kata Listiadi dalam keterangan persnya usai pertandingan.

Selain itu, Listiadi memberikan pujian kepada wasit Mukhils Ali Fathoni yang memimpin pertandingan. "Wasitnya luar biasa fair play," katanya.

Mengenai penyebab kekalahannya, Listiadi mengatakan, bahwa pemain PSM Makassar dianggap kalah bagus dalam hal fisik.

"Pemain kami kalah fisik dengan pemain Persema. Maklum, karena belum maksimal mempersiapkan fisik pemain," katanya. (VIVA news)

Jumat, 21 Januari 2011

Sembilan Bulan di Kalimantan, Irul Lepas Kerinduan Bersama Pengurus SINERGI


Yogyakarta–SINERGIA MAGAZINE, Setelah sembilan bulan bekerja di Kalimantan Timur, mantan Pimpinan Redaksi LAPMI SINERGI HMI Cabang Yogyakarta, Chaerul Arif, menyempatkan diri berkumpul-kumpul dengan pengurus LAPMI SINERGI di Kedai Gendhong Kebun Laras, Jum’at (21/01). Pada kesempatan nongkrong itu, Irul (sapaan akrab Chaerul Arif) bercerita banyak hal tentang masa lalunya di SINERGI.
Irul, juga sedikit banyak menyinggung soal kegiatan-kegiatan pada periode kepengurus sekarang. Bahkan, dari saking cintanya terhadap SINERGI, Irul menyempatkan diri untuk ngajak sharing terkait agenda-agenda terdekat SINERGI, termasuk soal pelatihan Jurnalistik Dasar, rekrutment, dan Musyawarah Lembaga (Muslem). “Mari, apa agenda teman-teman sekarang, kita sharing,” begitulah Irul mengajak pengurus untuk share sejenak.
Setelah serius-seriusan sejenak, suasanapun cair kembali. Tertawa bareng, cerita, nostalgia sambil ngopi adalah suasana yang paling mewarnai pertemuan yang berlangsung selama 5 jaman sejak pukul 20.00 WIB.(Ian)

Menjelang Pemilwa, Komisariat FISHUM Targetkan Majalah

Yogyakarta–SINERGIA MAGAZINE, Menjelang pelaksanaan pemilwa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Komisariat Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora (FISHUM) targetkan untuk menerbitkan majalah sebelum pemungutan suara dilaksanakan awal maret mendatang. Hal ini dimaksudkan agar HMI FISHUM dapat memberikan warna dan sekaligus media propaganda di FISHUM.
“Kita targetkan Majalah Fi-Zine (nama majalah Komisariat FISHUM, red.) selesai awal februari, setidak-tidaknya pasca UAS diselenggarakan, atau sebelum pemungutan suara yang ditarget awal maret mendatang. Ini kita maksudkan, disamping dalam rangka mewadahi kreatifitas kader juga sebagai media propaganda pada pelaksanaan pemilwa 2011,” demikian seperti disampaikan oleh Sekretaris Umum Komisariat FISHUM yang juga inisiator dan Pimpinan Umum Fi-ZIne, Herman Wahyudi. “Fi-Zine sekarang sudah dalam tahap lay out, jadi tunggu saja nanti hasilnya. Semoga tidak ada kendala berarti, ini semua untuk kader, dan untuk HMI secara umum,” tutur Yudi (sapaan akrab Herman Wahyudi).
Ditanya soal konten Majalah apakah ada sangkut pautnya dengan pemilwa, “sebenarnya, secara umum majalah ini murni berangkat dari Fakultas dan HMI Komisariat FISHUM khususnya. Artinya, kontennya juga sebagaimana majalah Fakultas, jadi istilah propaganda tadi sebenarnya sekedar pengistilahan saja. Kalau ternyata majalah ini mampu mewarnai dan menjadi ‘rajanya media Fakultas’ bukankah secara otomatis sifatnya akan propagandis, seperti itu maksud saya,” tegas pria kelahiran Sumenep Madura itu.
Fi-Zine terbilang inisiatif baru di Komisariat FISHUM, sebelumnya Komisariat FISHUM belum pernah menerbitkan produk kekaryaan apapun. “Ini merupakan program baru dari pengurus bidang kekaryaan, dan Kabidnya, saudara Linggar adalah sebagai Pemimpin Redaksi majalah ini,” tukas Yudi. “Dan soal apakah komisariat akan membentuk LAPMI, itu belakangan, yang penting kita terbitkan produk untuk mewarnai Pemilwa dan pers kampus yang selama ini kehilangan gaungnya,” lanjut mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi itu. (Ian)

Pesantren Waria; Realitas Lain di Balik Gempa Jogja 2006


Pondok Pesantren Khusus Waria Senin-Kamis, begitulah yang tertulis pada plang sebuah bagunan yang tidak lain adalah sentral kegiatan beribadah komunitas waria. Secara geografis, Letaknya berada di sebelah timur tidak jauh dari Pusat perbelanjaan Malioboro. Tepatnya di Desa Notoyudan Gg II/1294, RT 85 RW 24 Gedongtengen Yogyakarta.

Dari pinggir jalan raya Letjend Suprapto, posisi bangunan itu terlihat seperti layaknya rumah biasa. Menghadap ke utara dengan arsitektur ala rumah pribadi. Tidak ada suatu ciri khas yang mengidentikkan bangunan tersebut sebuah Pondok Pesantren, dimana kegiatan keagamaan kaum waria berpusat disana. Terkecuali hanya sebatas plang bermaterikan gabus dengan kombinasi warna kuning-hijau-merah sebagai sebuah penanda.

Jalur Jalan berupa gang sempit dan posisi yang agak menurun sekitar 1,5 meter ke bawah membuat reporter Sinergia harus ekstra pelan dan hati-hati dalam mengendarai motor ke area lokasi Ponpes. Tidak sampai 10 meter dari mulut jalan raya, pas dibibir turunan jalan, posisi kami sudah persis di depan podok pesantren.

Melihat pintu rumah itu (pesantren, red.) terbuka, kamipun langsung mengetuk pintu. Hampir 3 menit menunggu dan 3 kali mengetuk pintu, terlihat gadis kecil kira-kira berumur 9 tahunan keluar dari dalam rumah seraya menyapa dengan lembut, “cari Ibu ya mas?”. Walau mulanya agak sedikit ragu dengan kata “ibu” tadi, akhirnya kami pun lantas menyahut “iya dek, ada?”, “bentar ya mas”.

Kemudian terdengar suara gadis kecil itu memanggil seseorang dengan sebutan Ibu. Selang 1 menit, sesosok bertubuh besar dan berpenampilan serba feminine pun keluar dari dalam. Itulah mungkin jawaban dari kata “ibu” tadi, yang tidak lain adalah Maryani. Pendiri sekaligus pengasuh Pondok pesantren khusus waria itupun menyapa dan mempersilahkan kami masuk.

Dengan santai kamipun memulai perbincangan. Sekeliling ruangan terlihat atribut-atribut islam seperti kaligrafi dan juga ada foto seorang laki-laki dengan kopyah putih kokoh bersurban serta disampingnya ada seorang perempuan yang menurut keterangan Maryani tidak lain adalah KH. Hamrulie Harun, M.Sc. beserta istriya.

Beliau adalah figur kyai idola kaum waria yang telah menginspirasi berdirinya pondok pesantren khusus waria senin-kamis. Lewat Pengajian mujahadah al-Fatahnya yang tidak mengenal perbedaan status sosial manusia, Maryani merasa nyaman berada dalam bimbingan spiritual sang kyai. “saya seorang waria yang mengikuti pengajian mujahadah al-fatah yang diadakan oleh pak haji hamroli yang memiliki tiga ribu jamaah lebih, dan ternyata yang waria saya sendiri, kok saya masih diterima”. Tutur Maryani.

Perasaan seperti itulah yang kemudian membuat Maryani tergugah untuk mengajak teman-teman sesama waria dan membuat suatu pengajian khusus untuk waria. Maka, diadakanlah pengajian khusus untuk waria itu pada setiap minggu pon yang juga diasuh oleh kyai Hamrulie. “Yang datang kadang-kadang satu atau dua orang.”

Dalam kesempatan lain, Sonya, salah satu pengurus Ponpes sekaligus Kordinator Divisi Pengorganisasian Komunitas Waria PKBI Yogyakarta yang pada saat itu juga memiliki peranan penting dalam hal advokasi berdirinya pesantren waria menangatakannya dengan sebutan Pondok Pengajian. “Tiap bulan sekali kita melaksanakan pengajian. Nah, pertama kita mengadakan pengajian itu bisa mencapai ratusan jama’ah”, tuturnya dengan nada dan gayanya yang khas. Angka tersebut mungkin berbeda jauh dengan yang dikatakan Maryani. Namun, terlepas dari persoalan angka-angka itu, hal ini jelas mengindikasikan bahwa pengajian sebelumya memang pernah ada.

“Pertama pengajian ini saya adakan di tempat tinggal saya di Surokarsan. Tetapi akhirnya ketika sudah berjalan ekonomi saya hancur total, dan harta saya habis. Dan saya memutuskan untuk kembali ke daerah,” lanjut Maryani. Fenomena tersebut kemudian membuat aktifitas pegajian sempat vakum beberapa saat.

Akan tetapi, tidak lama setelahnya, gempa jogja pada 27 Mei 2006 yang sampai saat ini masih menyisakan duka itu ternyata memberikan cerita lain bagi komunitas waria. Dibalik kisah duka itu, ada sisi cerita lain yang menjadi jembatan sejarah bagi berdirinya pondok pesantren khusus waria senen-kamis. “Dan saya berinisiatif untuk mengajak teman-teman waria dari kota Jakarta, Surabaya dan dari daerah-daerah lainnya untuk berdoa bersama, ternyata banyak yang datang.” Antusias dan solidaritas antar sesama waria pada waktu itu memberikan energi tersendiri bagi orang yang pada masa kecilnya bergama katholik ini. “Akhirnya saya berbicara kepada pak haji hamroli untuk membuka forum pesantren waria, saya mengadakan pengajian khusus waria.”

Tepatnya pada tanggal 8 juli 2008, dibawah dukungan dan advokasi dari PKBI (Perhimpunan Keluarga Berencana Indonesia) Yogyakarta Divisi pengorganisasian komunitas waria, Pondok pesantren khusus waria senin-kamis pun diresmikan. “PKBI disini mendorong dan memotivasi tokoh pesantren waria yaitu Bu Maryani untuk bangkit lagi, dan PKBI menginisiasi”, ucap Sonya mantap.

Disini agak terjadi kerancuan antara PKBI (sonya, red.) dan pihak ponpes sendiri ketika ditanya tentang siapa sebenarnya yang mempunyai inisiatif awal karena semuanya sempat sama-sama mengklaim. Namun, berdasarkan penulusuran tim reportase Sinergia, dapat diklasifikasikan bahwa ide awal membangun sebuah pengajian khusus waria dari Maryani dan sang kyai. Akan tetapi ide pelembagaan menjadi sebuah pesantren adalah atas prakarsa dan inisiasi serta dukugan dari PKBI. “Jadi PKBI memang menginisiasi dan memfasilitas”, terang waria asal klaten itu disela-sela wawancara di kediamannya.

Dalam peresmian pondok pesantren yang dari segi penamaannya sarat kontroversial itu, hadir juga beberapa element masyarakat. Termasuk juga didalamnya pejabat pemerintahan dan tentuya Kyai Hamrulie sendiri. “pada waktu itu ada pak Bagus Subarjo anggota DPRD Yogyakarta, dari fraksi golkar”, tandas Maryani.

Sesekali terlihat gadis kecil kesanyangan yang diasuhnya sejak masih berumur 9 jam itu berjalan-jalan didepan kami. Terlihat juga gadis kecil itu sesekali menyempatkan dirinya ke pangkuan Maryani dan Maryani pun mengelus-elus keningnya dengan penuh kasih sayang. Sungguh terlihat jelas kasih sayang diantara mereka. Bak seorang ibu dan anak kandung sendiri. “Untuk lembaga saya sempat berkunjung ke LKiS, Aji Damai, dan mereka pun mendukung. Dan kemudian dari PKBI juga, mereka sangat mendukung sekali. Pernah juga memberikan pelatihan untuk salon dan penyuluhan kesehatan sekaligus cek kesehatan gratis, kan akhir-akhir ini banyak penyakit HIV,” lanjut waria berumur 40 tahun itu sambil mengingat-ingat kembali peristiwa itu.

Seiring perkembangannya, selama 2 tahun berjalan tentu banyak hal-hal yang telah dilalui. Baik itu berupa gejolak-gejolak yang timbul dari eksternal pesantren maupun dari internal pesantren. Dari internal pesantren sendiri pernah sesekali aktifitas pesantren vakum. Penyebabnya, sang kyai pernah “nyeleneh” dari tujuan awal berdirinya pesantren waria sendiri. “Jadi kemarin begini, pak Kyai pernah mengatakan bahwa pesantren ini ditujukan untuk pertobatan.” Cerita Sonya, waria yang masih berumur 26 tahun itu. “Ya kami tidak setuju, kan pesantren ini dimaksudkan untuk memfasilitasi kegiatan keagamaan teman-teman waria saja, bukan memaksa waria untuk kembali ke kodratnya.” Lanjutnya. (Herman Wahyudi)

*Tulisan ini sudah di publikasikan di Majalah Sinergia LAPMI SINERGI HMI Cabang Yogykarta pada edisi Juli-Agustus 2010

Lihat juga di http://sosbud.kompasiana.com/2010/12/29/pesantren-waria-realitas-lain-di-balik-gempa-jogja-2006/