Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Juni 2011

Andai kau tahu ayah!

Cerpen Khusus Fitriani Nasution*

Perempuan itu masih saja seperti itu. Selalu menangis saat mendengar teriakan yang keras, selalu takut melihat seorang pria dewasa dihadapannya, dan sangat sering berteriak tanpa ada alasan yang jelas. Tapi, kadang kali perempuan itu sedikit tersenyum, walaupun tak ada hal yang membuat dia bahagia selama ini. Perempuan itu hidup dalam diam dan kesendiriannya. Tak ada sahabat yang selalu menemaninya, tak ada orang tua yang selalu memperhatikannya, tak ada sama sekali. Perempuan itu benar-benar sebatang kara dalam menempuh kehidupan di dunia yang tak adil ini, terutama bagi dirinya.
Dalam ruangan yang sederhana, perempuan itu duduk di tempat tidur dengan manis, tapi tetap saja mata yang menghadap ke pintu menandakan kekhawatiran dan kecemasan hatinya. Entah apa yang akan dilakukan perempuan lugu itu. Tiap malam, itulah yang dilakukan di tempat tidur. Sehari tak pernah dia meninggalkan rutinitas tersebut. Setelah dua jam melakukan kebiasaan aneh itu dia langsung tidur dan menarik selimut bergambar doraemon berwarna biru itu. Ya, doraemon adalah idolanya dari kecil sampai sekarang dia sedang melakukan proses menuju dewasa.
***
Saat aku kecil aku sangat bahagia dengan hidupku. Aku senang memiliki keluarga yang harmonis, sehabat yang selalu hadir dalam keadaan apapun. Rina putri Dermawan adalah anak yang paling cantik, itulah yang selalu diucap ayahku setiap pagi saat aku bergegas pergi ke sekolah. delapan belas tahun lalu aku dilahirkan oleh ibu terhebat di dunia ini. Ibu yang selalu mencium pipiku yang cabi ini dengan lembut dan penuh kasih sayang. Tapi sayangnya itu hanya berlangsung selama 10 tahun. Ibu yang kucintai itu meninggal dunia terbunuh saat dia sedang memasak di dapur dan saat itu tak ada seorang pun dirumah kami. Aku sekolah, ayah belum pulang dari kesibukannya.
Malam yang sangat indah, malam yang seharusnya membuatku bahagia. Tapi, entah mengapa aku tak bisa menanamkan rasa itu dihatiku. Ayahku dengan tersenyum meminta izin kepadaku supaya aku merestui hubungannya dengan wanita cantik itu. Wanita cantik yang diperkenalkan olehku tidak lain adalah tante Arni, sahabat dekat ibuku. Tante Rani sering main kerumahku, jauh setelah ibuku meninggal dan terus seperti itu hingga sekarang. Ayah, dengan tatapan penuh harapan melihat tajam ke arah mataku yang telah berkaca-kaca itu. Ayah berharap anak perempuan satu-satunya itu setuju dan ikut bahagia dengan apa yang dia putuskan saat ini. Aku dengan memaksakan bibirku untuk tersenyum akhirnya menundukan kepala dua kali, pertanda aku setuju dan senang atas pilihan dan keputusan ayahku itu.
Aku pamit izin ke kamar untuk mengganti pakaianku, karena ayah mengajakku untuk makan malam bersama calon istrinya itu. Aku lari dengan cepat ke kamar dan saat ku lihat diriku di cermin kesayanganku, air mata sudah jatuh ke pipiku hingga lantai pun basah dibuatnya. Aku duduk di kasur kesayanganku, aku ambil sebuah foto tepat dimeja belajar samping tempat tidurku. Kupandangi foto keluarga harmonis itu, disana terlihat jelas seorang perempuan kecil tersenyum bahagia sedang meniup lilin berangka 8 diatas kue tar rasa cokelat kesukaanya itu, dan di pipi kiri dan kanan gadis kecil itu dikecup seorang laki-laki dan wanita dewasa dengan penuh cinta kasih, tentu saja mereka orang tua gadis kecil itu. Tak ada orang lain di sana, hanya ada ketiganya disana.
Aku rindu sekali dekapan seorang ibu yang tak pernah kurasakan selama delapan tahun terakhir ini. Delapan tahun lalu, kau masih ada di dekatku. Bersama ayah, kau selalu membuatku bahagia. Delapan tahun lalu kau masih menemaniku dan tak lupa mengucapkan selamat ulang tahun untuk putri kecilmu itu. Tapi, andai saja kau tahu ibu, sekarang setelah delapan tahun kepergianmu ada yang datang dan ingin menjadi ibuku dan menggantikanmu di hatiku dan ayah. Ayah mungkin bahagia dan sangat mencintai sahabat karibmu itu, tapi tidak denganku. Aku belum cukup ikhlas untuk melihat ayah mencintai istrinya selainmu. Aku tak pernah rela ada yang menggantikan posisimu di hati ayah dan hatiku.
***
Tepat di hari ulang tahunku yang kedelapan belas tahun, aku sama sekali tak merasakan bahagia. Ayah janji akan memberikan hadiah spesial pada hari ini. Awalnya aku sangat bahagia. Aku berpikir ayah akan membelikan boneka doraemon yang besar seperti badanku saat ini, atau ayah akan mengecet kamarku dengan tema doraemon. Tapi dugaanku melesat jauh, dia benar-benar tak pernah melakukan itu. Hadiah spesial yang dia berikan adalah sesosok wanita yang tak asing bagiku, dan dengan bangga ayah bilang akan menikahi wanita itu bulan depan. Ayah mengaku telah menjalani hubungan dengan wanita itu selama tiga tahun belakangan ini.
Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan, aku hanya ingin menangis dan berteriak sampai suaraku habis. Ini tidak adil bagiku dan almarhum ibuku. Ibu pasti akan sedih kalau tahu suami yang sangat ia cintai sebulan lagi akan resmi menjadi suami sahabatnya sendiri. Sungguh, inikah jalan hidupku sekarang. Ingin sekali rasanya aku bilang pada ayah dengan jujur bahwa sesungguhnya aku tidak setuju dia menikahi wanita itu, tak akan sudi memanggilnya ibu, tak rela kau akan mencintainya lebih dari mencintaiku. Tapi aku tidak bisa, mulutku seakan disihir sehingga aku hanya bisa diam dan reflek menundukan dua kali kepalaku dengan tidak sengaja. Aku tak ingin mengecewakanmu dengan ketidak setujuanku atas kebahagiaanmu itu ayah. Apalagi ditambah senyum ceriamu yang sudah sangat jarang kulihat darimu.
Ayah memanggilku dan ingin menepati janji untuk makan malam bersama di rumah makan padang favorit kami. Aku langsung menghampiri ayah dengan berlinang air mata. Dengan terbata-bata aku beranikan mulutku untuk menyuarakan apa yang ingin ku katakan selama ini. Ayah, sungguh aku sebenarnya tidak ingin menyakitimu. aku tak ingin menghapus kegembiraanmu saat ini. Wanita disampingnya itu hanya diam melihat aku dan ayah, sesekali dia melirik ke arah kami. Aku tantang tatapanku ke mata wanita itu. Dan aku memeluk ayah lagi dengan erat dan sangat lama. Ayah membalas pelukan gadis remajanya yang akan beranjak dewasa itu. Dengan penuh penasaran ayah menayakan ada apa dengan diriku.
Tanpa pikir panjang, aku mulai mengungkapkan apa yang ingin ku katakan selama ini. ayah, andai ayah tahu aku sebenarnya bahagia kalau ayah akan menikah lagi, tapi bukan dengan dia! Dia tak pantas untuk ayah. Tanpa pikir panjang ayah melayangkan tangannya ke pipi kananku. Untuk pertama kalinya ayah menamparku dengan sangat keras hingga hidungku meneteskan darah. Yang sangat menyakitkan sebenarnya bukan karena tamparannya itu, tapi ayah menamparku karena dia ingin membela wanita itu. Wanita yang sangat licik dan sangat menjijikan itu. Dialah wanita yang telah membunuh ibuku, membunuh istrimu yang sangat kau cinta itu ayah. Aku melihat kejadian itu ayah, dengan mata kepalaku sendiri sungguh aku telah melihatnya. Tapi, kalimat itu tak keluar sepatahpun dari mulutku, pernyataan itu hanya dan akan selalu ada dalam mata hatiku. Tamparan ayah itu membuatku tak bisa berbuat apa-apa lagi.
***
Siang itu, saat aku pulang kerumah, aku melihat ibu dan tante rani sedang bercecok mulut di dapur. Tiba-tiba tante rani menjambak ibu dan membenturkan kepalanya ke lantai dengan sangat kencang. Saat itu aku hanya diam. Tante rani langsung pergi lewat pintu belakang tanpa melihatku. Yang kudengar dari mulut wanita murahan itu hanya “aku akan mendapatkan apa yang kamu dapatkan selama ini”, tepat sekali di depan muka ibuku yang sedah tak bernyawa itu,
Sekarang aku baru sadar apa makna dari perkataan wanita itu. Dulu aku memang tak mengerti apa-apa akan makna itu. Aku tak pernah, sama sekali tak pernah mengatakan hal ini kepada siapapun. Begitu juga untuk ayah. Sampai akhirnya polisi hanya mengatakan ibuku meninggal karena terpeleset lantai yang licin di dapur. Semua keluargaku dan ayahku percaya saja apa yang dikatakan polisi saat itu.

***
Setelah ayah menamparku, dia menarik wanita itu dan keluar dari rumah sambil mengancamku dengan suara sangat kencang dan dia mengatakan “ aku akan tetap menikahi Rani, tak peduli kau setuju atau tidak “. Dan untuk pertama kalinya juga ayah membentakku dengan suara sangat keras, dan lagi-lagi itu hanya untuk membela wanita yang dia cintai saat ini. dengan mati-matian dia tetap akan menikahi pembunuh itu. Mereka lalu pergi dan aku tetap berdiri diam tak bergerak dari tempat dimana untuk pertama kalinya ayah telah menampar dan membentakku seumur hidupku. Ayah yang rela memilih wanita yang dia sayangi selama tiga tahun itu daripada gadis perempuannya ini yang telah diasuhnya selama delapan belas tahun. Cepat sekali ayah berubah, dia bukan seperti ayahku selama ini.
Dengan perlahan aku ke kamar dengan air mata yang tak pernah henti sejak tragedi tadi.. Seakan air mata adalah saksi bisu ketidakmampuanku dan kebodohanku untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi delapan tahun lalu itu. Aku menyesal dalam hati dan menyalahkan diriku ini. aku masuk kamar dan duduk hampir dua jam dengan menagis di tempat tidurku.
Setelah kejadian itu, ayah tak pernah kembali lagi kerumah. Sudah tiga bulan berlalu, tak pernah ayah pulang, untuk dihubungi saja sangat susah. Sekarang aku benar-benar sebatang kara. Yang bisa kulakukan saat ini adalah tetap menunggu ayah datang, mengetok pintu kamarku dan memelukku lagi. Sungguh, aku sangat merindukan ayah, sekalipun ayah telah melukai hatiku. Aku tak ingin kehilangan ayah, setelah lama aku telah kehilangan ibu.


Kamar tidurku, 28 Maret 2011, Bantul-Yogyakarta.
*Mahasiswi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN SUKA Yogyakarta 2010

Kamis, 16 Juni 2011

Gadis itu

Cerpen khusus Fitriani Nasution*

Gadis itu masih terdiam di sudut ruangan itu, diantara meja-meja yang hampir rusak, dengan melipat kedua kakinya dengan tangan, dia tetap menangis dan menangis terus-menerus, sampai air matanya tak keluar lagi. Gadis itu masih saja hanyut dalam tangisan yang sia-sia itu. Tak ada serorang pun di dalam ruangan, sepi dan sunyi serta gelap yang menjadi teman setia gadis itu,tapi lemari kusuh yang berada tepat di depannya itu sudah cukup menjadi saksi kesedihan dan kegelisan hati gadis polos itu. Sudah hampir satu jam gadis itu duduk di pojok ruangan yang kotor dan bau tanpa suara, tapi sangat jelas mata kosong yang menatap langit lewat jendela kusam itu mengisyaratkan sesuatu. Perlahan dia pun mulai menundukan kepala, kepala yang tadi sempat menantang keadaan yang membuatnya seperti itu.
***
Malam rabu yang sangat cerah , membuatku sangat senang untuk berangkat ke tempat itu, walaupun ku tak tahu itu tempat apa dan dimana. Aku senang bukan karena sekedar ingin pergi ke tempat itu, tapi lebih karena pria dewasa itu yang mengajakku pergi. Malam pun sangat bersahabat dengaku, malam yang indah, tentu bukan tanpa bintang, bulan saja hadir pada malam itu. Ya, mungkin alam tahu apa yang sedang dirasakan penghuni yang satu ini.
Hampir dua jam aku berias diri di depan kaca kesayanganku ini. Kaca yang besar, lebih besar dari tubuhku sendiri sehingga aku bisa sangat puas melihat diriku sendiri di depan kaca itu. Tanpa sadar, aku seperti orang yang kehilangan kesadaran, aku jadi sering, bahkan terlalu sering tersenyum melihat diriku sendiri di kaca itu. Tak ada yang spesial dengan hal itu, tapi hal ini sangat berarti bagiku, “ kau sangat cantik “ hatiku berbisik seperti itu. Aku pun berbalik berbisik dalam hati,” itu karena aku bahagia “.
Tepat jam delapan malam, pria dewasa itu datang menjemputku, dengan mobil berwarna hitam , dia pun memakai kemeja hitam kotak-kotak dan celana bahan hitam, tak lupa sepatu pantofel yang hitam pula. Seolah dia ingin menjemput putri yang dicintainya dan ingin di suntingnya itu. Dengan penuh senyum manis dan muka merah merona, gadis itu pun masuk ke dalam mobil itu, dengan senang gadis itu berkata, “ mau kemana kita mas ?”, tak ada jawaban satu kata pun yang di ucap pria dewasa itu, pria dewasa itu hanya tersenyum tanpa mengisyaratkan sesuatu. Mobil pun tetap melaju sangat cepat, sunyi, tanpa ada suara apa pun dari penghuni di dalamnya.
Tempat indah itu membuatku terkagum-kagum, sebuah rumah makan pas di sebelah pantai selatan, dirias sangat indah dengan nuansa lampu seperti pelangi, berwarna-warni, melambangkan suasana hatiku saat ini. Di salah satu meja telah tersedia menu makanan kesukaanku dan tentu makanan kesukaan dia pula, tak lupa pula di rumah makan itu diputar lagu-lagu kenangan cintaku dan dia yang terangkum indah selama tiga tahun belakangan ini. Tak ada orang di dalam rumah makan ini, itu karena dia telah menyewa secara khusus untukku malam ini.
Dia memegang tanganku untuk menghampiri meja khusus itu, dan mempersilakan aku duduk. Tanpa banyak kata, tanpa minum dan memakan hidangan spesial itu, tiba-tiba saja dengan sangat cepat pria dewasa itu mengatakan dengan lembut, sangat lembut sekali,” will you marry me? “, dan tak kalah cepatnya aku pun berucap dengan lantang, “ ya “. Kita saling meluapkan bahagia dengan cara wajar yang dilakukan para pasangan yang sedang dilanda asmara ini. Aku bahagia, karena dia sekarang bukan hanya sekedar pacarku, tapi calon suamiku. Niat untuk mempersuntingku bulan depan pun telah dia utarakan kepada keluargaku, tentu saja dengan keluarganya dia datang .
***
Hari bahagia pun akan tiba beberapa jam lagi, gadis itu terlihat sangat cantik di kamar itu. Dengan gelisah dan cemas, gadis itu sambil menggenggam kedua tangannya tanpa sadar telah mondar-mandir di dalam kamar itu beratus-ratus kali. Semua para undangan telah hadir untuk menyaksikan dan mendoakan pasangan yang akan ijab kobul dan akan syah menjadi suami istri itu. Penghulu memanggil pihak keluarga untuk meminta sang calon pengantin itu untuk keluar, karena sudah lewat tiga jam dari yang telah ditentukan.
Pria dewasa itu belum juga datang, pun dengan keluarganya yang dari makasar. Gadis itu sudah sangat letih menghubungi pria itu dan semua sanak keluarganya, tapi nihil tak ada satu pun yang menjawab. Gadis itu mulai putus asa dengan keadaan yang menyesakkan hatinya itu. Pria itu benar-benar tak datang dihari yang bahagia itu. 10 jam telah berlalu, dan tetap tak ada kabar. Para tamu undangan satu persatu telah meninggalkan tempat dimana seharusnya dilaksanakan ijab kobul itu, begitu pula dengan penghulunya.
Gadis itu hanya bisa diam dalam tangisannya, entah apa yang membuat semua ini terjadi. Gadis itu protes dengan Tuhannya, dia menuntut apa yang seharusnya dia dapatkan pada hari itu. Tapi, tetap tak ada jawaban dari Tuhannya itu. Tiga bulan sudah berlalu,tanpa sedikit pun beranjak dari lantai itu, di ruangan yang sempat membuat gadis itu bahagia, dia tetap saja tak barucap satu kata pun. Hanya tangisan yang terlihat di pipi merahnya. Banyak psikiater dan dokter yang dimintai tolong pihak keluarga untuk memeriksa gadis itu, tapi tak ada kemajuan apa pun. Para psikiater dan dokter menyarankan untuk secepatnya dibawa kerumah sakit jiwa, supaya tidak sakit berkelanjutan.
Gadis itu telah berada di tempat yang seharusnya dia tempati saat ini. Mata kosong itu tetap saja berharap pria dewasa itu datang padanya. Tapi setidaknya gadis itu beruntung, karena dalam ketidak warasaanya dia tidak mengetahui bahwa pria dewasa itu ternyata menikah dengan orang lain , tepat dihari dimana seharusnya dia menikahi gadis itu juga. Tak lain dan tak bukan, pria dewasa itu telah menikahi sahabatnya sendiri. Sahabat kecil yang sangat disayangi gadis itu. Mereka menikah di makasar.
Keluarga pria itu sebenarnya tidak setuju akan pernikahan anaknya itu. Tapi, sahabatnya itu telah hamil lima bulan, dan bayi yang dijaninnya milik pria dewasa itu . Itulah alasan yang diberikan oleh pihak keluarga pria perihal kenapa mereka tak datang dan tak bisa dihubungi pada hari itu. Itu karena tak ingin melukai hati gadis lugu itu beserta keluarganya.Tapi, tidak tahukah sebenarnya, menjadi gila itu lebih menyakitkan dan sangat memalukan daripada mengetahui hal itu?.
Gadis itu masih terdiam di sudut ruangan itu, diantara meja-meja yang hampir rusak, dengan melipat kedua kakinya dengan tangan, dia tetap menangis dan menangis terus-menerus, sampai air matanya tak keluar lagi. Gadis itu masih saja hanyut dalam tangisan yang sia-sia itu.


*Mahasiswi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN
SUKA Yogyakarta 2010 & Wartawan LPM ARENA
UIN SUKA Yogyakarta.

Rabu, 19 Januari 2011

SUARA SEORANG AKTIFIS

Aku tidak peduli siapa dia, yang terpenting bagiku selamatkan negeri ini...
Ya, aku tidak peduli siapa dia, korupsi atau tidak, yang terpenting bagiku dia telah berjasa. Tiap saat aku selalu berbikir, kenapa orang-orang selalu sibuk memikirkan siapa dia tentang pemerintah, bukan apa saja jasa dia. Tidakkah orang-orang menyadari, bahwa pemerintah (para penguasa) juga seorang manusia yang memiliki kompleksitas kecenderungan sebagaimana desain Tuhan? Dan arah kecenderungan tersebut bukankah hal yang bersifat manusiawi?
Aku tidak menyalahkan orang-orang diluar sana yang sibuk mengurus kasus korupsi, apalagi membenarkan penguasa yang koruptor, tidak, bukan itu maksudku. Maksudku, jika benar korupsi sudah membudaya atau menjadi epidemi yang sukar disembuhkan, kenapa tidak berpikir untuk konsentrasi pada pemberantasan yang sebenarnya menjadi akar dari pada korupsi? Dan bagi mereka yang (merasa) korup, jika memang menjadi tabi’at atau hobi yang sukar dihilangkan, mengapa tidak berani menjadikan korupsi sebagai motivasi? Ya motivasi, motivasi untuk membangun negeri ini. Bukan mengerogoti negeri bagai rayap, atau mencuri bagai tikus, tapi mencurilah seperti ayam mencuri barang pemiliknya. Sebesar apapun yang dicuri oleh ayam, ujung-ujungnya demi orang yang dia curi juga; biar gemuk dan enak dimakan. Jika bisa seperti itu, aku berpikir rakyat tidaklah keberatan untuk mengikhlaskan korupsi. Tapi sayang beribu sayang, mana ada orang seperti itu sekarang. Hare gini. Pikirku.
Di suatu pagi...
“pemirsa, kasus korupsi oleh pejabat...” zep! “korupsi sebesar...” zep! “markus, atau makelar kasus yang...” zep!...
“kenapa? kenapa kamu ubah terus cahnnelnya?” Tanya temanku, Irfan, agak jengkel sedikit marah karena channelnya aku ubah terus.
“Menurutmu, seberapa pentingkah kasus korupsi kawan...? ” tanyaku. Aku tidak berpikir dia marah atas tingkahku atau tidak, berita memang program favoritnya. Tapi entah mengapa aku seperti sudah mencapai titik kejenuhan. Aku merasa tidak ubahnya seperti saat menonton acara smack down di Lativi dulu. saling bantai semua. Kejam!!! Tapi siapa yang kejam? Dan siapa yang dikejamin? Semuanya mencari kambing hitam seolah hendak berkata secara angkuh Dialah yang bersalah, dan Akulah kebenaran itu.
Sepertinya Irfan masih mencari-cari jawaban tentang apa sebenarnya maksud dari pertanyaanku. Mungkin dia berfikir kok bisa aku yang dia anggap aktifis bertanya semacam itu. Bukankah kasus korupsi saat ini menempati posisi tertinggi di negara kita dan bisa menjadi bahan orasi lapangan ketika demo. Namun, sebelum Irfan sempat memberikan komentar, akupun sudah mendahuluinya.
“Apa arti korupsi, jika bisa menjadikan negara ini mampu berdiri kokoh diantara negara-negara lain? Apa arti korupsi, jika dengan korupsi pemerintah mampu ‘merawat’ negeri ini dengan baik? Apa pula arti korupsi, jika korupsi menjadi faktor utama yang mampu memotivasi para penguasa untuk memajukan negeri ini? Korupsi hanya perkara kecil untuk ukuran negeri kaya ini kawan... Yang penting, pemerintah bisa mejalankan tugas utama mereka menjadi wakil yang benar-benar mewakili rakyat”. Tapi, benarkah mereka bisa? Benarkah”? batinku menentang.
“eh, aku pergi dulu kawan, sampai jumpa!”
“mau kemana? Tunggu dulu aku belummm... akuu...wooy...!!!”
Akupun pergi meninggalkan Irfan tanpa menghiraukan pertanyaan dan komentar balik dari dia. aku tidak mengerti kenapa sekarang bisa setega ini pada dia. Meninggalkannya secara mendadak sementara hasrat hendak berkomentar balik. sungguh tidak biasa. Di hari biasanya, setiap aku mengajak Irfan bicara atau diskusi, berjam-jampun bisa terjadi. Tapi kali ini? entahlah. Pikirku.
* * *
Aku tidak peduli siapa dia, yang terpenting bagiku selamatkan negeri ini...
Ya, aku tidak peduli siapa dia, artis atau bukan, cacat moral atau tidak, yang terpenting bagiku dia bisa kenapa tidak. Negeri ini bukan persoalan agama yang perlu syarat muluk-muluk. Negeri ini butuh orang yang bisa, bukan orang yang biasa. Biasa bergelut di dunia politik, atau biasa bergelut di dunia yang sehat moral bukan berarti bisa menjadi jaminan masa depan negeri ini.
Orang boleh mengatakan, pemilu saat ini diwarnai politik demam artis, politik asal-asalan yang berlandaskan pada realitas siapa bisa mencalonkan siapa. Sekalipun siapa tersebut tidak bisa berbuat apa-apa. ini merupakan suatu kondisi dimana nilai-nilai daripada demokrasi sudah mulai dilacurkan. Mungkin itu benar, tapi haruskah dipermulutkan? pemimpin nergeri ini bukanlah persoalan siapa berlatar belakang apa, tapi siapa bisa berbuat apa. Apa yang bisa diperbuat bukanlah persoalan latar belakang. Latar belakang bukan masalah besar yang perlu diperdebatkan. Masalah besar kita yang sesungguhnya adalah terletak seberapa bisa kita tidak saling ‘membantai’.
Hiruk pikuk kerumunan massa ku lihat terjadi persis 50 meter di depan tempatku berjalan, perempatan Kantor Pos besar Yogyakarta. Unjuk rasa, ya saya kira unjuk rasa lagi. Perempatan Kantor Pos besar Yogyakarta memang menjadi tempat favorit para Mahasiswa dalam melakukan aksi komunikasi politiknya, unjuk rasa. Selain ramai, disana juga merupakan tempat strategis dimana banyak pekerja media nongkrong. Sangat cocok untuk efektifitas orasi mahasiswa yang berdemo. Karena dengan sorotan media, tidak hanya di yogyakarta, seluruh indonesiapun dapat mendengarkan ‘suara mahasiswa’ tersebut. Perlahan tapi pasti, aku mencoba mendekati kerumunan Mahasiswa itu, ingin tahu isu-isu apa sebenarnya yang sedang mereka perjuangkan.
“...Kami, sebagai mahasiswa dan sebagai rakyat indonesia mengutuk para koruptor, Markus...” “...Alangkah ironis negeri ini, disaat krisis moral melanda seluruh aparatur negara, para partai Politik dengan pe-de-nya mengusung figur-figur calon pememimpin penyandang cacat Moral...” dengan berapi-api dan semangat kepemudaan ku dengar suara salah seorang pemuda penyampaikan orasinya. Panasnya terik Matahari siang seakan tidak berarti sama sekali dibanding api semangat yang sedang berkobar di tubuh sang pemuda itu. Begitu pula massa, terus bersorak-sorai sambil mengamini apa yang disampaikan oleh sang orator. Huuh...isu itu lagi. tiadakah yang lebih penting dan berguna yang dapat dilakukan?
Sudah cukup tahu tentang aksi yang mereka lakukan. Akupun pergi berjalan menyusuri Alun alun utara Kota Yogyakarta yang terletak persis disebelah selatan Kantor Pos besar. Entah apa yang ku cari disana, akupun tak mengerti. Hasratku cuma ingin berjalan, berjalan, dan berjalan. Barangkali ku bisa menemukan sesuatu yang lebih baik dari pada sekedar mendengarkan hiruk pikuk isu-isu perpolitikan negara yang begitu menjenuhkan. Politik kambing hitam yang saling membantai, sampai kapan? Entah sampai titik mana keadaan ini akan berhenti.
Sudah komplit penyakit yang diderita negeri ini. Oh, kasihan kau Indonesia, tanah airku, tanah kelahiranku... Engkau gemuk, tapi engkau dibuat kurus dalam kegemukan itu. Engkau sebenarnya bisa memberikan sebanyak mungkin yang kita butuhkan, tapi engkau telah dipaksa untuk tidak memberikan itu. sesalku dalam hati. Tapi apa yang bisa ku perbuat? Orang bilang aku aktifis, namun haruskah terbebani dengan isu-isu politik yang sebenarnya akan semakin menyeret kita pada jurang kebobrokan moral yang lebih dalam lagi? Ya, akan lebih dalam lagi. Masyarakat akan semakin pandai, Mahasiswapun, bibit unggul bangsa akan semakin pandai. pandai ‘berpolitik’, pandai menipu, pandai menjadi markus, dan pandai-pandai tidak terpuji lainnya.
Lelah berjalan, ku cari tempat berteduh di sekitar alun-alun. Celingak-celinguk kiri kanan, akhirnya disebuah pohon besar aku berhenti, dan duduk beristirahat dibawahnya, teduh sekali. beberapa menit berlalu, aku hanya terdiam beristirahat tanpa berbuat apa-apa. Karena ku rasakan begitu hampa, ku keluarkan balpoint dan beberapa lembar kertas yang biasa ku bawa dalam beraktifitas sehari-hari. Aku tulis apa saja yang terlintas dalam pikiranku saat ini, aku tulis apa saja yang hendak ku curhatkan pada lembaran-lembaran kertas putih ini. Aku lampiaskan seluruhnya, ya, aku lampiaskan. Hingga tanpa terasa tulisan-tulisan tersebut sudah membentuk sebuah tulisan opini yang kalau diketik ke komputer aku perkirakan 3.000 sampai 4.000-an karakter. Aku hampir tidak menyangka, biasanya aku butuh berjam-jam untuk nulis serampung ini. Ya sekalipun belum sempurna.
Melihat sinar mentari sudah mulai semakin petang, aku bergegas hendak pulang. Ya, aku harus pulang. Aku harus mengetik tulisan ini, aku harus ketik. Dan tentunya, harus ku kirim ke Media, ya harus ku kirim, dan harus dimuat, harus. Ini suaraku, suara seorang aktifis yang sudah jenuh dengan hiruk pikuk percaturan politik yang begitu menjenuhkan. Masyarakat harus memikirkan hal-hal yang lebih penting. Masih banyak ‘dimensi lain’ dari negeri ini yang lebih penting untuk dipikirkan. Pendidikan, anak-anak, dan..dan...ya masih banyak. Pikirku bergejolak. Namun... bruaaaakkkkkkkkk!!!
Sakit, sakit sekali, kepalaku berputar, semuanya terasa berat, berat. Ku pandangi sekitar, samar-samar ku lihat banyak orang, banyak sekali. Terasa diriku seakan hanya menyisakan nafas yang tidak cukup untuk mengeluarkan banyak suara. Ku pengang tangan salah seorang kerumunan yang entah siapa dia. Aku tidak jelas melihatnya. Aku ingin mengungkapkan sesuatu, aku ingin mengungkapkannya. Tapi aku sudah tidak kuasa lagi, hingga akhirnya...perlahan terasa berat, semakin gelap, hingga... Aku tidak peduli siapa dia, yang terpenting bagiku selamatkan negeri ini...gelap.


* * *
Yogyakarta, 29 April 2010
Herman Wahyudi