Selasa, 25 Januari 2011

Herman Wahyudi, Berorganisasi Sejak di Pesantren


Yudi, begitulah sapaan akrabnya, adalah Pimpinan Redaksi Majalah SINERGIA Lembaga Pers Mahasiswa Islam (LAPMI) SINERGI HMI Cabang Yogyakarta periode 2010-2011. Track recordnya di dalam berorganisasi sudah tidak diragukan. Terbukti selama dia berproses di organisasi selalu menempati posisi strategis, seperti Kadiv, ketua umum, sekretaris umum, dan didunia jurnalik sebagai sebagai Pimpinan redaksi serta Pimpinan Umum beberapa media jurnalistik, baik yang sejak di pesantren maupun di Yogyakarta. (Bersambung)

Minggu, 23 Januari 2011

UIN Jogja Jelang UAS

Yogyakarta-SINERGIA MAGAZINE, Menjelang UAS yang akan diselenggrakan pada tanggal 27 January 2011, mahasiswa UIN menyempatkan waktu tenang untuk bersantai dan beraktifitas. (teks percobaan)

Jalur Magelang-Yogyakarta Ditutup Lagi

Yogyakarta-SINERGIA MAGAZINE, Aliran deras lahar dingin Gunung Merapi sejak kemarin petang terus mengikis ruas jalan utama Magelang-Yogyakarta. Alhasil, pada Jumat (21/1), kemacetan panjang akibat penyempitan jalan pun tak terhindarkan.

Kondisi ini memaksa petugas Bina Marga Pemerintah Provinsi Jawa Tengah kembali menutup jalan. Berbagai alat berat pun dikerahkan untuk membersihkan jalan dari pasir dan batuan Merapi.

Sejumlah warga dan relawan sempat turun dan membantu mengatur lalu lintas. Mereka juga mendorong beberapa kendaraan yang mogok setelah mengantre berjam-jam.

Padahal, jalur Magelang-Yogyakarta sempat dibuka malam tadi. Jalan dibuka setelah dilakukan pengerukan selama empat jam [baca: Jalur Magelang-Yogyakarta Bisa Dilalui Lagi].(Liputan 6)

Dari Hitam Ke Putih, Menuju Rekonsiliasi Sejarah G 30 S

Oleh:
Herman Wahyudi

Sekilas G 30 S dan kontroversi sejarah

Adakalanya, ketika kita mengingat istilah Gerakan 30 september (G 30 S/PKI) –hampir pasti– yang terbayang dalam pikiran kita adalah tragedi pembantaian tujuh orang jenderal di Lubang Buaya. Mereka adalah Jenderal TNI A.H. Nasution, Letjen A. Yani, Mayjen TNI Haryono M.T., Mayjen TNI Soeprapto, Brigjen TNI D.I. Panjaitan, Mayjen TNI S. Parman, dan Brigjen TNI Sutojo S.
Berbagai analisis, spekulasi sejarah, dan (bahkan) asumsi tentang siapa dalang dibalik peristiwa tersebut hingga kini masih kontroversi. Namun, terlepas dari itu semua, tentulah kita sepakat bahwa tragedi tersebut masih menyisakan misteri dan luka sejarah mendalam bagi bangsa Indonesia. Khususnya bagi mereka yang terkena efek sejarah politis ala orde baru (baca; Suharto).
Yang perlu diperhatikan, membicarakan peristiwa G 30 S, berarti kita tidak sedang fokus hanya pada pembantaian tujuh orang jenderal di Lubang Buaya. Melainkan kita juga membicarakan penumpasan besar-besaran Partai Komunis Indonesia (PKI) oleh Suharto, pun Surat perintah 11 Maret 1966 (Supersemar). Dalam artian, membicarakan G 30 S, ibarat mempelajari rangkaian teks skenario drama yang kita tidak boleh melewatkan satu kalimat pun dari pada teks skenario itu. Dengan Supersemar, Suharto memproklamirkan diri sebagai orang yang berwenang –bahkan melampaui presiden Sukarno. Dan setelah peristiwa G 30 S pecah, dengan Supersemar (versi) nya, Soeharto melakukan aksi yang populer dimata rakyat, yaitu membubarkan PKI. Sayangnya, langkah itu semata-mata politis –untuk melakukan kudeta terhadap presiden Sukarno yang notabene PKI pada waktu itu merupakan kekasih politik presiden Sukarno dengan ide Nasakomnya. Sebab secara kongkret, aksi pembantaian terhadap orang-orang komunis sudah dilakukan dalam triwulan terakhir tahun 1965, yang secara efektif sudah membuat PKI rata dengan tanah, dan tidak lagi memiliki kekuatan potensial sebagai rival politik AD. Demikian tentang Supersemar.
Terkait G 30 S serta penumpasan PKI, sangat tidak efektif kiranya jika saya harus medeskripsikan kembali sekenario berdarah itu. Karena, sudah banyak buku-buku sejarah dari berbagai versi yang mendeskripsikannya secara lebih komprehensif. Akan tetapi, sedikit pula saya akan ikut terjun dalam misteri (siapa dalang?) yang sampai saat ini masih menjadi tanda tanya besar bagi bangsa Indonesia, sekedar memutar rekam jejak sepintas beberapa pelaku sejarah sebagai bahan refleksi.
Bahwa, pertama, Sukarno pernah disebut terlibat dalam G 30 S, akan tetapi terbantahkan oleh fakta ideologi Nasakom (Nasionalis-Agama-Komunis) yang mengindikasikan tidak mungkinnya Sukarno menghendaki penumpasan PKI. Kedua, keterlibatan Suharto seperti disebut-sebut oleh banyak orang pasca runtuhnya Orde Baru (Orba), dalam tulisan Mayjen. (Purn.) juga disangsikan kebenarannya. Oleh karena tidak ada data-data akurat yang menyebut Suharto dalang dibalik G 30 S. Dokumen yang dimunculkan hanya berupa dugaan-dugaan yang bersifat samar, tidak dapat dibuktikan dengan kata-kata yang mendukung, dan sifatnya dianalogikan (Mayjen, Purn. Samsudin, Mengapa G 30 S/PKI Gagal? Suatu Analisis, hal.143). Dan nama-nama lain seperti DN Aidit (ketua PKI), para Jenderal AURI, AD dan bahkan pihak asing CIA (Centre of Intelegence Agency), pun juga disebut-sebut sebagai dalang G 30 S.
Atau –dalam pandangan yang lebih netral– sebetulnya tidak ada perancang tunggal dibalik tragedi 30 September 1965? Versi ini didasarkan pada teori chaos dan ketidakberaturan. Tidak ada pelaku tunggal di balik tragedi tersebut, melainkan pelaku-pelaku yang mengail di air keruh untuk kepentingan politiknya sendiri (Saksi dan pelaku GESTAPU Pengakuan Para Saksi dan Pelaku Sejarah Gerakan 30 September 1965, hal.xiv)
Memang, pasca tumbangnya Orba pada tahun 1998 (baca; era reformasi), banyak fakta sejarah –jika hal itu diklaim sebagai fakta– yang mengungkap tabir dibalik tragedi ’65. Banyak para pelaku dan korban sejarah yang “buka mulut” terkait tragedi itu. Sekalipun kita tidak dapat memungkiri adanya berbagai macam bumbu kepentingan (baca; pro-kontra) yang mendasarinya. Namun demikian, pada hakekatnya, versi Orba lah yang paling kuat. Karena suplay buku-buku pelajaran sejarah banyak didominasi oleh versi Orba. Plus suguhan Film (versi Orba) berjudul Penghianatan G 30 S/PKI yang biasa diputar tiap malam 30 september disiaran televisi nasional TVRI hingga berakhirnya masa Orba itu sendiri.
Maka benar seperti dikatakan oleh Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie dalam kata pegantarnya bahwa history is what the ruler inseribes, Sejarah adalah apa yang digoreskan oleh penguasa. Dalam pemahaman, bahwa sejarah sangat erat kaitannya dengan kekuasaan. Bahwa sejarah (baca; G 30 S), disadari atau tidak, selama tiga dekade lebih menjadi kombinasi utuh penguasa Orde baru. Inilah sebenarnya bongkahan luka yang perlu kita sembuhkan sebagai seorang pemuda penggerak bangsa.

Memulai dengan “Memutihkan Sejarah” G 30 S.

Nampaknya, dalam konteks rekonsiliasi sejarah, adagium nasi sudah menjadi bubur pun harus kita jadikan sebagai dasar pijakan utama. Untuk menghindari terjadinya bongkahan luka sejarah baru bagi bangsa indonesia. Dengan kata lain, tulisan sederhana ini tidak dimaksudkan untuk ikut-ikutan beramsumsi tentang siapa dalang dibalik G 30 S. Biarlah saksi bisu sejarah yang mengabadikan fakta itu dengan “cara”nya sendiri.
Tugas kita sebagai generasi muda hanya berada pada kisaran bagaimana menetralisir kepentingan politis dari pada sejarah G 30 S. Pada prakteknya, harus ada rekonstruksi sejarah yang menghadirkan beragam versi kedalam satu kesatuan utuh sejarah bangsa. Semisal perombakan besar-besaran terhadap buku-buku sejarah yang selama ini telah membentuk pemahaman bangsa tentang G 30 S sesuai selera Orba. Pun, kalau perlu memutar kembali Film sejarah G 30 tiap malam tanggal 30 September dengan versi terbaru yang lebih netral hasil rekonstruksi sejarah yang bersifat kolektif.
Dengan demikian, Luka sejarah akan terobati tanpa harus menghadirkan bongkahan luka baru bagi bangsa Indonesia. Inilah yang penulis sebut dengan “memutihkan sejarah”. Kenapa memutihkan? Karena sejarah G 30 S telah lama di hitamkan oleh kediktatoran rezim orde baru yang berkuasa selama 32 tahun.

Daftar Pustaka
http://www.dhaniels.com/2010/10/apa-kabar-film-g30spki-pengkhianatan-g.html
Lesmana, Surya, dkk. 2005, Saksi dan pelaku GESTAPU Pengakuan Para Saksi dan Pelaku Sejarah Gerakan 30 September 1965, Cet. Kedua, Media Pressindo, Yogyakarta.
Samsudin, Mayjen. (Purn.), 2005, Mengapa G 30 S/PKI Gagal? Suatu Analisis, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.
Sekretariat Negara Republik Indonesia, 1994, Gerakan 30 September Pemberontakan Partai Komunis Indonesia, Latar Belakang, Aksi, dan Penumpasannya, cetakan kedua, Menteri Sekretaris Negara, Jakarta.
Soetrisno, Slamet, 2006, Kontroversi dan Rekonstruksi Sejarah, Cet. III (edisi revisi), Media Pressindo, Yogyakarta.
Tim Lembaga Analisis Informasi, 2007, Kontoversi Supersemar dalam transisi kekuasaan Soekarno-Soeharto, Cet. Kesepuluh (edisi revisi), Media Pressindo, Yogyakarta.

Sabtu, 22 Januari 2011

Berguru pada Srigala Mongolia

Judul buku : Wolf Totem
Penulis : Jiang Rong
Penerjemah : Rika Iffati
Tebal buku : 600 halaman
Tahun terbit : Desember 2009
Penerbit : Hikmah
Peresensi : Shirhi Athmainnah*

Jengis Khan adalah sosok paling berpengaruh di Asia. Ia berhasil meruntuhkan semangat perang di Tebing Serigala Liar, dimana 100.000 pasukan meruntuhkan musuh yang lebih dari setengah juta jiwa. Tidak hanya itu, Ia berhasil merebut ibu kota kerajaan Jin, Dadu, yang sekarang ini disebut Beijing.
Sangat sederhana pemikiran Jengis Khan, Ia hanya berguru pada alam. Serigala adalah sumber inspirasi dan guru besar bagi masyarakat Mongol. Strategi yang dilakukan sekawanan serigala ternyata cukup mampu menjadi kurikulum pendidikan militer masyarakat Mongol. Sehingga pantas jika serigala adalah totem spiritual masyarakat Mongol.
Chen Zhen, tokoh dalam novel karangan Jiang Rong yang berjudul Wolf Totem adalah pemuda yang giat mempertahankan asa tertingginya. Ia berani terjun langsung ke padang rumput Olonbulag untuk memahami seekor serigala beserta seluk beluk kehidupan padang rumput.
Keganasan serigala membuat pelajar dari Cina itu berdecak kagum. Keliaran serigala menjadi totem bagi penduduk Nomad padang rumput Olonbulag. Dengan membuang mayat manusia kepada serigala, penduduk Nomad Olonbulag percaya bahwa arwah jenazah itu akan sampai ke Tengger. Penghormatan akan kelestarian padang rumput sangat dijunjung tinggi. Karena bagi penduduk Mongol, padang rumput adalah kehidupan terbesar. Tanpa padang rumput, tak akan ada kehidupan.
Dilain sisi, Chen Zhen khawatir jika Bilgee sang kepala suku Olonbulag yang sangat disegani dan selalu disetujui pendapatnya, mengetahui kalau kalangan petani memelihara anak serigala. Pasalnya, masyarakat dilarang memelihara sribagala. Namun tidak membuat spirit Chen padam. Ia bahkan melakukan percobaan dengan mengawinkan anak serigala jantan dengan anak anjing betina. Akankah percobaan ilmiah Chen berhasil? Kuatkah menghadapi cemoohan kaum penggembala yang menganggap serigala sebagai totem spiritual mereka?.
Perjuangan memang tidak pernah mulus. Perbedaan perspektif untuk melestarikan padang rumput dilatarbelakangi oleh perbedaan basic keilmuan terjadi di Olonbulag. Bagi Bilgee, yang sudah puluhan tahun hidup dipadang rumput, ia berpandangan bahwa tidak boleh ada pemusnahan serigala dengan cara-cara ekstrim seperti menggunakan senapan dan bahan peledak. Namun pandangan itu terlihat tabu, sebab yang memegang kekuasaan di padang rumput itu bukan ahli padang rumput. Jadi pantas jika padang rumput terancam kesejahteraannya. Pemandangan ini merupakan representasi hadits Nabi SAW. “Barangsiapa menyerahkan suatu perkara bukan pada ahlinya, maka tunggulah saat kehancuran”.
Salah satu yang terbersit dari buku ini adalah bahwa kenyataan pahit harus ditelan ketika kekuasaan dan keserakahan yang berbicara. Semuanya bungkam tak berkata saat Bao Sunghui melakukan tindakan sewenang-wenang. Ia dengan angkuh memimpin perburuan serigala dengan cara-cara yang menurut adat istiadat padang rumput sangat tidak wajar. Dan ketidakwajaran itu nyaris membuat padang rumput yang damai itu terusik kehidupannya.
Novel yang telah diterjemahkan kedalam lebih dari 30 bahasa ini, Episode demi episode di padang rumput Mongolia selalu menarik perhatian. Taktik serigala liar Mongolia selalu inovatif dan mengagumkan. Perjuangan serigala dalam memburu mangsa menjadi ibrah bagi pembaca, bahwa hidup itu tidaklah gampang. Terlebih keinginan untuk hidup sejahtera, tidak semudah mengutarakan teori-teori dalam seminar-seminar. Perlu pengorbanan dan strategi.
Novel ini sangat cocok untuk memompa semangat para pejuang. Segala elemen masyarakat sangat mungkin untuk bisa belajar dari para penghuni padang rumput yang diceritakan dalam novel yang akan difilmkan in. Novel yang hidup seperti inilah yang sangat dibutuhkan bagi masyarakat Indonesia. Sudah terlalu sering masyarakat kita disuguhi novel dengan kisah-kisah yang mengharu biru dan menyebabkan kecengengan diakhirnya.

*penulis adalah civitas LKSY

Menyoal Hedonesme Mahasiswa

Disetiap penghujung satu abad, akan lahir seorang reformis di bumi ini. Dia akan mengarahkan kemana peradaban akan bergerak. Dalam catatan sejarah, sang reformis itu berkreteria pencipta dan pekerja keras, tidak terpengaruh oleh budaya dan lingkungan. (Thomas Aquines)
Mendambakan generasi bermental inovatif dan bebas dari lilitan pengaruh zaman, rasanya naif ketika melihat fenomena sekarang. Mahasiswa yang menjadi sorotan sekaligus titian harapan ummat, malah menampilkan sikap diluar fungsi dan perannya sebagai agent social of change and transformation. Kini, mahasiswa terjerat dalam bundaran popular culture yang berhaluan hedonis-konsumeris. Hingga sampai pada ujung pemandangan yang kering akan tatanan moral dan etika.
Berdalih ingin membusungkan diri melalui gaya hidup, malah tersapu kebanggaan dan popularitas. Gerak simbiosis mahasiswa dari waktu ke waktu semakin menghawatirkan. Kenyataan ini memang membuat dahi berkerut. Seperti yang diutarakan Ahmad Bashir pada Sinergi “Sebenarnya gaya hidup mewah boleh-boleh saja asalkan sudah punya biaya sendiri. Namun hal itu tidak saya dapatkan pada mahasiswa sekarang. Mereka bergantung sama Ortu. Jadi gag pantas hidup bermewah-mewah”.
Pada salah satu obrolan panjang dengan reporter Sinergi, mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga ini tidak kuasa menahan letupan pemikirannya mengenai eksistensi mahasiswa yang tidak karuan. Ia melengkapkan “budaya intelektual dan kultur ilmiah kurang diminati oleh kalangan mahasiswa sekarang, mereka lebih tertarik pada kesenangan. Sulit menemukan kreatifitas edukatif yang tercipta dari komunitas mahasiswa, yang ada malah hura-hura dan menjalin asmara, mahasiswa yang berkumpul tidak lagi membicarakan tetang issu nasional, fenomena di masyarakat dan bagaimana menyikapi permasalahan bangsa dan Negara, makanya saya lebih enak tidur dan baca buku di Mushalla dari pada berkelompok dengan mereka”. Tuturnya sambil tersenyum.
Ahmad Bashir yang sering memakai peci di kampus, tercatat sebagai mahasiswa jurusan Jinayah Siyasah (JS) fakultas Syariah UIN Sunan Kalijaga. Selain itu, pria yang duduk dibangku semester empat ini, adalah penulis di media massa. Tulisan-tulisannya nongkrong nyaris disemua media nasional. “saya termasuk orang yang cepat berproses dalam menulis, selama dua bulan tulisan saya sudah dimuat”. Katanya.
Berkat karyanya itu, banyak anugerah yang Ia dapatkan. Dua minggu di Yogyakarta kiriman dari orang tua sudah berhenti. Bahkan mahasiswa yang biasa dipanggil Bashir ini sudah mampu membalikkan keadaan, dalam artian, orang tua sudah dapat menikmati kreatifitas anaknya, setiap tiga bulan Bashir mengirim uang -biasanya- berkisar 1.200.000.
Namun bukan hasil yang seharusnya dilihat, melainkan proses. Sebagai alumni Ponpes Al-Huda Sumenep-Madura, semenjak datang ke Yogyakarta Bashir memulai aktifitas dengan berjualan buku selama dua bulan. Namun kerja dengan hasil tidak seimbang, berjualan kesana-sini, hasilnya hanya bisa dibuat makan bersama kawan-kawan. Akan tetapi jauh dari sana, nyali intelektual dan keinginan untuk mandiri melenyapkan semua rasa sakit yang didera.
Bahkan disela kesibukannya, Bashir berhasil menyandang juara 1 lomba membaca al-Quran terbalik se-Bantul. Prestasi ini, tak lepas dari berbagai aktifitas yang ditekuninya, dari mangaji kitab, diskusi dan menulis jam 02.00 pagi. Semuanya, untuk mengangkat harkat mahasiswa yang kreatif dan penggerak. Menurutnya, menulis adalah suatu gerakan anti anarkisme yang yang harus dilestarikan. “mahasiswa itu seharusnya bisa menulis dengan baik, bukankah menulis merupakan satu-satunya pemikiran mahasiswa global”.
Dari sudut kekeluargaan, Bashir adalah anak kedua dari dua bersaudara. Ia dilahirkan di Batu Putih Sumenep Madura. Sikap dan keperawakannya, menampakkan kalau Ia berasal dari keturunan kurang mampu.. Saat ini, Bashir tinggal di pondok Hasyim Asyari Yogyakarta. Disana budaya membaca dan menulis memang telah digodok semenjak pesantren ini berdiri.
Berangkat jam 05.30 menuju kampus dengan sepeda ontel kesayangannya, Bashir tidak pernah terlambat kuliah atau mengeluh. Baginya, kondisi menggantung bukan mahasiswa dalam makna yang sebenarnya, tapi kemandirian dan kerja keras menjadi acuan. Walaupun jarak 17 KM ditempuh Ia nikmati dengan rasa senang. Kendati melihat teman-teman sejawatnya membawa motor, namun kreatifitas tidak bisa ditemui dari harta. “Mahasiswa itu selayaknya tidak bergantung, tapi hidup mandiri. Bagaimana mau membangun Negara, kalau hidupnya bergantung pada orang lain.” Ungkap pria yang berkulit putih ini.
Jauh dari penilaian orang-orang, kalau kuliah sambil kerja akan mengurangi nilai ujian semester. Klaim seperti itu tidak berlaku pada Bashir, setiap semester Dia tidak pernah mendapatkan IPK dibawah 3.00. “kerja dan menulis bukan alasan mendapat nilai rendah, bahkan dengan menulis bisa mendapat nilai “A”, itu sudah saya buktikan, selain itu saya gag pernah mendapat nilai 3.00, melainkan lebih diatasnya”.
Diakhir perbincangan, mahasiswa juara 1 lomba resensi OPAK 2008 ini, mengatakan agar mahasiswa tidak terperdaya oleh lingkungan tapi menciptakan lingkungan. Mengembangkan potensi dan berusaha keras hidup mandiri tanpa bergantung.(Basyar DZ)

Mengandai Masa Depan HMI Tanpa Independensi

Memasuki umur yang semakin senja, nampaknya, HMI masih belum bisa terlepas dari sederet isu hubungannya dengan eksistensi kader dan independensi. Keterlibatan kader dalam politik praktis seolah menjadi satu topik persoalan tahunan yang tak pernah usang untuk diperbincangkan. Ujungnya, menyoal kembali “sakralitas” independensi di HMI.
Mendekati pelaksanaan kongres HMI XXVII yang akan direalisasikan beberapa bulan kedepan, isu-isu independensi dan politik praktis yang bersumberkan virus pragmatisme tersebut sudah seyogiyanya menjadi perhatian utama bagi HMI. Lebih-lebih, bila HMI masih memiliki sejumlah daftar mimpi-mimpi besar yang hendak diraih. Baik itu dilakukan dengan cara merenovasi konsep ideologisasi di HMI secara umum, atau bahkan –kalau perlu “merombak” kembali bangunan independensi.
Jelas, melihat realitas kader HMI yang sekarang cenderung praktis; menganggap organisasi hanya sebagai sebuah “kantor pos” yang siap mengantar surat ke berbagai tempat tujuan pragmatis kader, Organisasi berbendera Hijau Hitam ini mengalami krisis idealisme. Sehingga yang ada dan berkembang dalam pola pikir kader zaman sekarang bukan lagi bagaimana menjunjung tinggi apalagi membesarkan HMI seperti pada “zaman”nya. Melainkan, bagaimana dia (baca; kader HMI) bisa menjadi seperti abang-abangnya yang sudah duduk manis di luar sana. Tentunya secara serba praktis.
Independensi seperti termaktub dalam AD HMI pasal 6 merupakan manifestasi-normatif dari upaya sterilisasi gerakan-gerakan HMI dalam memperjuangkan visi-misinya. Sebagai kader ideal yang berdarah hijau hitam, independensi tentu menjadi roh utama sebagai idelisme dari segala aktifitas pergerakan di HMI. Karena pergerakan tanpa idealisme adalah kering nilai. Ketika ini terus terjadi, maka pertanyaan bagi HMI, mau dibawa kemana organisasi ini?
Demikian merupakan fenomena memperihatinkan yang tidak akan teratasi dengan hanya sebatas perang wacana antar kader HMI. Begitu banyak kampus-kampus yang perlu untuk di hijau hitamkan. Sementara HMI masih sekarat dengan penyakit pragmatismenya. Jangankan berpikir menjadikan kampus hijau hitam, mengurus kaderisasi di komisariat-komisariat saja terkadang masih belum bisa –untuk tidak mengatakan tidak– terlepas dari hitungan-hitungan pragmatis.
Oleh karena itu, saatnya HMI meraih cita-cita dengan “mempertegas” kembali independensinya atau tidak sama sekali. Dengan kata lain, independensi dihapus dari kitab suci AD HMI. Karena, apalah arti sebuah aturan jika tidak memiliki kekuatan secara normatif (nilai-nilai sakralitas) dimata kader. Sebuah aturan tentu tidak dibuat bukan untuk membuat kader “murtad” terhadapnya. Melainkan untuk dijalankan sebagai khittah organisasi (baca; HMI).
Mungkin, yang dapat dikatakan, lebih baik tanpa independensi dari pada mempertahankan tradisi “murtad” terhadap organisasi. Tradisi murtad tidak akan dapat memberi nilai-nilai terhadap sebuah pergerakan. Melainkan, hanya dapat menjadi virus bagi eksistensi organisasi HMI. Yang lama-kelamaan akan mengakibatkan pada matinya organisasi ditelan kuatnya arus idelisme organisasi-organisasi lain. Sehingga, HMI pun hanya akan menjadi sejarah panjang yang melelahkan dari seorang Lafran Pane.
Sebagai kata akhir, independensi tidaklah lebih dari –meminjam bahasa Sudarsono– sebatas iklan jika pada hakekatnya tidak memiliki kekuatan nomatif. Dan tentang bagaimana memiliki kekuatan secara normatif tersebut –mau tidak mau– dengan pula mempertegas secara teknis aturan main independensi itu sendiri jika HMI masih punya mimpi.(Redaksi)